arti sahabat dan cinta

ARTI SAHABAT DAN CINTA
Risaaa…. Kecilkan suaranya!!!” teriak Kak Dyo dari dalam kamarnya.
“Iya, iya,” jawab Risa dengan sedikit ketus.
Risa mengecilkan volume suara Astrid yang terdengar seperti erangan lagu yang menyakitkan.
Yup!!! Risa memang sedang sedih yang bercampur kesal dan mengerang di dalam hatinya.
“Teganya!!!” teriak Risa dalam hati dengan air mata yang tak dapat dibendungnya lagi.
Bayangkan saja, Ocha, Sahabat karibnya yang sudah lama begitu dekat, terlihat sedang asyik berduaan dengan Andi di depan sekolah tadi siang. Risa memang sangat menyukai Andi sejak awal mereka bertemu. Tinggi, tegap, tampan, dan pintar pula. Siapapun akan tertarik untuk lebih dekat dengannya. Termasuk Risa yang sudah lama menyimpan rapat perasaannya.
“Apakah selama ini Ocha tidak memperhatikan wajahku yang selalu merona jika melihat Andi lewat dihadapanku?? Atau Ocha memang tak peduli padaku??” Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otak Risa.
Awalnnya ia memang tidak pernah menduga semua ini, karena Ocha telah memiliki kekasih yang setahu Risa sebagai The only one love bagi sahabatnya itu. Tapi, begitu ia melihat kejadian yang terjadi sewaktu Risa pulang sekolah tadi. Oh..Entah kemana kesetiaan yang selama ini diagungkan oleh Ocha tarhadap kekasihnya.
Risa pun terlarut dengan kesedihannya itu hingga ia tertidur dan lupa mematikan tape recorder yang dari tadi mengalun lembut menemani kesendiriannya.

“Ris..Risa!! Kamu dari mana aja sich?? Aku cariin kamu kemana-mana,” tanya Ocha pada sahabatnya itu di depan kelas.
“Emang gue biasanya kemana kalo pagi-pagi begini?? Ya ke kantinlah buat sarapan!!!” jawab Risa dengan ketus dan membuat kaget sahabatnya itu.
“Kamu kenapa? Kok kayaknya aneh banget??” Ocha keheranan.
Tanpa basa-basi keluarlah kata-kata yang penuh makna dari mulut Risa kapada sahabatnya itu.
“Cinta kadang menyakitkan bila tanpa kesetiaan dan cinta kadang sangat melelahkan bila tanpa kesetiaan.” Dengan wajah cueknya Risa berlalu dari hadapan Ocha yang masih terdiam kebingungan akan ucapan sahabatnya tadi.
Dan selama jam pelajaran hingga waktunya pulang, mereka tidak saling bicara. Risa dengan seribu diamnya yang menyimpan sesak di dada dan Ocha yang masih tak mengerti, memilih diam tanpa komentar apapun.

Sambil menunggu taksi yang datang, Risa duduk di taman depan sekolahnya. Namun, pikirannya terus melayang dan tak berhenti memikirkan Andi. Sebenarnya Andi dan Risa pernah dekat. Mereka sering saling sapa hingga telpon-telponan hampir tiap malam. Tapi, entah mengapa atau mungkin Andi maupun Risa sama-sama memiliki kesibukan yang sangat padat. Hingga mereka lupa untuk saling bertanya kabar. Begitu classmeeting tiba, barulah Risa mulai mencari-cari kepingan hatinya itu lagi. Dan selanjutnya, tiba-tiba Ia melihat Ocha dan Andi saling canda di depan sekolah dengan akrabnya. Jelas saja Risa naik pitam. Setahu Risa, Sahabatnya itu tidak pernah mengenal Andi dengan akrab. Tapi, mengapa???
“Aku memang cemburu!!! Terus kenapa??” Bisik dalam hati Risa.
Risa tertunduk, menangis di atas kasurnya dan kecewa kepada sahabat karibnya. Tiba-tiba, Ia menemukan sebuah buku merah yang terdapat di bawah bantalnya. Ternyata, buku itu tertulis nama Kak Dyo. Dan judulnya cukup menarik Risa yang sedang gundah gulana. “Seberapa Pantas Dia Untukku??” Dengan judul itu dapat menggelitik Risa untuk membukanya. Selembar demi selembar terlewati. Wajahnya yang tadi pucat dan lesu, kini mulai memudar. Ternyata, isi buku menjelaskan tentang kekuatan hati untuk menahan segala rasa yang sebenarnya hanya membuang waktu.
“Aku memang suka, tapi entah ini cinta?” pikirnya dalam hati.
“Cemburu?? Itu normal kan???” tanyanya lagi dalam hati.
“Ocha sahabatku?? Dari dulu memang begitu kan???” batinnya terus bertanya sekaligus memikirkan nasib cinta dan sahabatnya.
Ditutupnya buku merah itu. Dalam hatinya, Ia tahu bahwa isi buku itu memberinya sebuah pemikiran, kalau perasaannya pada Andi dan rasa marahnya pada sahabatnya, Ocha, hanya membuang waktunya saja. Sesuatu yang belum jelas, malah menjadi hal yang terus dipikirkannya dari tadi.
Aku bukannya mengalah
Aku tidak menyerah
Aku punya rasa, punya cinta
Aku merasa bahagia
Bukannya Aku ingin lupakan semua cerita
Tapi, cukup sudah!!!
Aku tak mau tersesat tanpamu
Sahabatku…
Aku akan biarkan ini mengalir
Hingga noda menghilang dari hatiku
Maafkan Aku, wahai sahabatku..
Yang sudah mengacuhkanmu karena cemburuku.
Dilipatnya secarik puisi yang telah ditulisnya tadi. Dan berharap Ocha, sahabat karibnya akan mengerti apa yang telah terjadi. Dan berjanji dalam hatinya untuk menjelaskan semua kata-katanya yang pernah ditujukannya kepada sehabatnya itu besok dan mulai berjalan lagi tanpa ada rasa yang mencoba mempermainkan kesetiaannya akan sebuah persahabatan yang sangat dijunjungnya itu.
“Maafkankan aku wahai Sahabatku,” kata maaf itu mengalir bersama dengan senyuman yang tenang di wajah Risa.

Rick!! Tunggu!”
Ricky menoleh, lalu melanjutkan langkahnya. Aku mengejarnya dan menarik tangannya.
“Apa sih?”
“Kok kamu ga tunggu aku? Aku pengen pulang bareng kamu.”
“Maaf, aku buru-buru.”
“Buru-buru? Tiap hari juga buru-buru.”
“Maaf, Vel.”
“Ya udah! Terserah kamu!”
Aku pergi meninggalkan Ricky, berharap ia mengejarku. Tapi aku salah! Panggilan darinya pun tak kudengar.
***
“Hai, Vel, malam ini ada acara?” Aku sedang berbicara di telepon dengan selingkuhanku.
“Hm.. Nggak.”
“Ketemuan yuk di cafe. Mau?”
“Boleh.”
“Aku tunggu jam 7 ya. Bisa?”
“Ok. Bye, Ram..” Aku menutup telepon.
Namanya Rama. Aku mengenalnya lewat chatting. Dia baik, perhatian, dan tentu saja keren. Dia mencintaiku. Dia tahu aku sudah punya pacar tapi dia tetap ingin jadi pacarku. Kebetulan aku dan Ricky sudah agak menjauh, jadi tidak ada salahnya mencoba untuk selingkuh walau kutahu itu tidak baik. Siapa tahu saja suatu hari nanti Ricky akan memutuskan hubungannya denganku, aku masih punya pacar cadangan.
***
Sampai di cafe, kami memesan makanan dan kami makan sambil berbincang-bincang.
“Vel, aku senang bisa sedekat ini sama kamu. Gak terasa kita sudah jalan 3 bulan. Kamu senang?”
“Aku senang banget.”
“Vel, jujur aku pengen banget memiliki kamu seutuhnya.”
Aku terdiam.
“Aku tahu kamu ga mau putusin Ricky. Tapi sampai kapan pun aku akan tetap menunggumu.”
“Makasih ya, Ram, kamu mau nunggu aku.”
“Kamu lebih mencintai dia?”
“Aku juga tidak tahu. Yang kutahu, aku selalu merasa bahagia berada di dekat kamu. Kamu perhatian, romantis, dan selalu ada untukku. Jauh berbeda dengan Ricky.”
“Itu berarti kamu sudah bisa memilih, Vel.”
Aku tersenyum mantap walaupun dalam hati masih ada perasaan ragu.

***
“Ricky!”
Seperti biasa, dia hanya menoleh lalu melangkah pergi.
“Ricky!!” Aku menahan tangan kanannya.
“Apa sih, Vel?”
“Aku mau ngomong sama kamu.”
“Aku buru-buru, Vel.”
“Gak lama kok. Aku cuma mau bilang kalo aku minta putus!”
Dengan raut wajah tak percaya, Ricky menatapku. Lalu dengan cepat ia menarik tanganku ke salah satu bangku di lapangan parkir.
“Apa kamu bilang?”
“Aku minta putus, Ricky,” aku mengulang.
“Kenapa??”
“Kenapa? Bukannya itu yang kamu inginkan? Sudahlah! Aku tahu kamu ga cinta lagi sama aku. Setiap hari kamu ga pernah mau ada di dekat aku. Kamu selalu menghindar. Aku capai! Daripada aku sakit hati, lebih baik aku yang putusin kamu lebih dulu. Jadi kamu ga usah susah-susah lagi putusin aku. Sudah ya, aku buru-buru. Semoga kamu bahagia tanpa aku.”
Aku meninggalkan Ricky tanpa menunggu jawabannya. Sekarang hatiku lega bercampur sedih.
***
“Selamat ulang tahun, Sayang.”
“Makasih.”
“Udah siap pergi?”
“Yap!”
Hari ini aku berulang tahun. Rama mengajakku makan malam di sebuah restoran mahal dengan pemandangan laut yang indah. Rama memang sangat romantis, benar-benar tipe pria idamanku. Aku merasa beruntung telah memilihnya menjadi kekasihku.
“Sayang, aku senang kamu ajak aku makan di sini. Bagus banget pemandangannya.”
“Aku senang kalau kamu senang. Vel, makasih ya kamu mau jadi pacar aku sepenuhnya.”
“Aku yakin ini keputusan yang tepat.”
Rama tersenyum.
“Vel, aku ke WC dulu ya. Titip HP-ku.”
“OK.”
Rama pergi. Aku kembali menikmati pemandangan di sini. Benar-benar indah.
‘Rrrr….’
HP Rama bergetar. Aku mengambilnya lalu kulihat layar HP Rama. Tertulis di sana ‘Sayangku calling.’ Aku tercengang. Sayangku?? Sayangnya Rama kan cuma aku. Lalu siapa ini? Dengan hati berdebar-debar kuangkat telepon itu.
“Sayang, kamu di mana sih?” suara manis dan centil terdengar di telingaku.
“Kamu lagi jalan sama Veli ya?”
Kok dia tahu aku??
“Ha.. Halo,” aku memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.
“Uups. Ini siapa?” jawabnya.
“Veli,” jawabku singkat.
“Oh, Veli. Maaf ya aku ganggu kamu.”
“Kamu siapa?”
“Aku.. Aku…”
“Ayo jawab! Kamu siapa?” aku sedikit membentak.
“Aku pacar Rama,” jawabnya. Bisa kudengar suaranya agak bergetar.
“Pacar? Aku pacarnya Rama!”
“Ehm.. Maaf ya, Vel, aku ga bermaksud menyakiti kamu. Tapi kurasa aku harus membuka semuanya sekarang.”
“Ada apa sih?”
“Aku jadian sama Rama udah hampir 3 bulan.”
“Hah? Jadi?”
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Kamu tahu dia jalan sama aku?”
“Ya. Aku tahu.”
“Kenapa kamu ga marah?”
“Kenapa aku harus marah? Toh Rama cuma…. Oops..!”
“Cuma.. Cuma apa?”
“Cuma mainin kamu.”
“Kenapa???”
Aku mulai menangis.
“Karena kamu sangat polos. Kamu mudah dibohongi. Rama hanya ingin main-main. Dia tidak pernah serius sama kamu. Dia cuma menginginkan tubuhmu.”
“APA???!!”
“Maaf, Vel.”
Aku menutup telepon. Rama datang menghampiriku. Tanpa basa-basi aku berdiri lalu menamparnya dengan keras. Tidak peduli semua orang memperhatikan kami.
“Aku sudah tahu semua kebejadan kamu! Aku gak nyangka otak kamu bisa sekotor itu!! Kita putus!!”
Aku berlari pulang sambil menangis.
***
Sampai di rumah.
“Sayang, ini tadi ada titipan dari Ricky. Kamu lagi berantem ya?”
“Nggak kok. Makasih, Ma, aku ke kamar dulu.” Aku mengambil kado itu lalu menuju kamarku.
Kubuka kado itu. Sebuah kotak musik. Kubuka perlahan dan muncul sepasang pengantin sedang berdansa diiringi alunan piano. Benda yang sangat kuimpikan sejak 3 bulan yg lalu. Di bawahnya ada secarik kertas. Kubuka dan kubaca…
‘Happy Birthday. Ini kotak musik yang kamu idamkan. Aku ingin ini menjadi kado spesial untukmu. Aku hargai keputusanmu untuk berpisah denganku. Maaf sudah membuatmu sedih selama ini. Tapi perlu kamu tahu, aku kerja part time untuk membelikanmu hadiah ini. Karena itulah aku selalu buru-buru sepulang sekolah. Semoga kamu bahagia tanpaku.’
Aku menangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: